Pages

Kamis, 30 Mei 2013

The Power of Bubur Ayam


Penampakan bubur ayam jakal ueeenaaakkk

Akhir-akhir ini sarapan jam 6 pagi itu adalah sebuah kebiasaan yang baru buat saya. Bukan disengaja, apalagi untuk mencanangkan kampanye “Awali Hari Anda Dengan Sarapan Bergizi” atau menggalakkan hidup sehat berawal dari sarapan di pagi hari (ya iyalah, mana ada sarapan di malam hari)  tapi lebih bisa disebut terpaksa.  Ya, terpaksa. Mengapa demikian? Jadi begini ceritanya.  Ada sebuah penjual  bubur ayam di Jalan Kaliurang yang termahsyur dimana-mana. Rasanya enak dan bukan hanya diakui oleh saya saja, tapi juga orang lain yang sering memenuhi tempatnya.  Tempat jualannya bukan sebuah bangunan permanen, tapi hanya sebuah gerobak biasa dan beberapa kursi plastik. Terakhir bubur ayam ini pindah, dikarenakan halaman yang dulu digunakan untuk berjualan sudah memiliki pemilik baru yang punya usaha, halamannya tidak bisa digunakan untuk berjualan bubur ayam lagi. Akhirnya pindahlah ia beberapa meter lebih jauh dari kos saya, tetapi loyalitas saya sebagai konsumen tidak perlu diragukan, walau hanya pindah sedikit lebih jauh, saya masih setia berjalan dengan mata terkantuk-kantuk di pagi yang dingin demi semangkuk (atau dua mangkuk) bubur ayam yang enak itu. Selesai  makan bubur ayam, mata saya biasanya langsung “ON” alias tidak ngantuk lagi, apalagi kalau makan sambel kebanyakan, saya malah jadi bolak balik WC.

Namun, disayangkan bubur ayam yang enak, pembeli yang banyak tidak disertai dengan jumlah kursi yang memadai. Untuk yang satu ini, saya pernah mengalami kejadian yang tidak menggenakkan dengan  seorang ibu. Seorang ibu yang tanpa merasa bersalah, mengambil kursi saya (jelas-jelas itu kursi saya dan dia tahu itu) ketika saya ingin kembali ke kursi MILIK saya dari mengambil sambel dengan semangkuk bubur ayam yang masih panas di tangan, kursi MILIK saya tiba-tiba sudah berpindah ke ibu itu, saya pikir ketika melihatnya saja walau tanpa meminta, dia bakal merasa tidak enak. Eh, ternyata ibu itu sudah mati rasa. Ya sudahlah, dengan sopan saya minta kursi MILIK saya kembali, tapi si ibu malah mengarahkan saya untuk “merebut” kursi milik seorang bapak yang juga meninggalkan kursinya untuk mengambil sambel (what the..? -_-) tentu saja saya menolak.  Yaa, saya tetap meminta kursi saya dikembalikan, ia memang mengembalikan kursinya, tapi dengan cara ditendang (ikkhh..ibu itu bikin gemes deh. >_<) Selesai makan, saya komplain ke mas penjual bubur ayam supaya kursinya ditambah, sekalian curhat kalau kursi milik saya tadi direbut sama ibu-ibu. Ternyata perebutan kursi tidak hanya terjadi di DPR, tapi juga di tempat jualan bubur ayam.

The Power of Bubur Ayam. Membuat saya (ketika tidak ada kuliah) harus cepat-cepat tidur agar tidak telat keluar pagi-pagi sekali untuk mendapatkan suasana tentram untuk sarapan. Sarapan di tempat terbuka dengan udara pagi yang masih bersih, kursi masih kosong, bubur ayam yang masih mengepul dan sate ampela yang masih banyak), membuat saya yang notabenenya orang paling malas  keluar nyari makan siang dan makan malam, (kalau rajinnya kambuh, makan pagi, siang dan malam dirapel ke makan sore) tapi paling rajin keluar nyari sarapan karena bubur ayam. Membuat saya ikhlas  mengosongkan perut dari siang-malam demi satu misi esok paginya : Bubur ayam. The Power of Bubur Ayam yang membuat seorang ibu  berbuat curang kepada saya dan menyuruh saya juga melakukannya ke  pada orang lain. Hahahehehoho.

Jika bubur ayam ini tidak berjualan, saya kecewa sekali dan mungkin jutaan pembeli lainnya juga begitu (kalau yang ini lebay) jika sudah begitu, saya hanya mampu menatap kosong halaman tempat berjualan (dengan efek suara angin “wuzzz”) beberapa orang ada yang berjalan kaki dan naik motor  juga mampir hanya mendapati halaman kosong tanpa gerobak hijau beserta mas-masnya. Kalau sudah begitu, saya memilih balik ke kos tanpa bergairah mencari alternatif sarapan lain. Saya hanya mau sarapan bubur ayam dan saya hanya mau bubur ayam Jakal :) The Power of Bubur Ayam! (ˆ‎ڡˆ‎)

Sleman, 29 Mei 2013


0 komentar:

Poskan Komentar