Pages

Sabtu, 11 Mei 2013

Cinta Pertama


Tema minggu kelima ini pas sekali dengan saya, weetss. Baru saja kemarin saya melakukan pendakian gunung pertama saya di Merbabu di Jawa Tengah, tepatnya di Boyolali dan saya merasa saya telah jatuh cinta karena pengalaman itu. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kelima.

Ketika seorang teman mengajak saya untuk mendaki gunung, saya seperti mendapat angin segar dan tanpa basi basi, langsung saya iyakan ajakannya. Saya memulai minggu pertama setelah ajakan mendaki gunung itu dengan olahraga walaupun tidak rutin dan inilah kesalahan pertama saya ketika memutuskan naik gunung. Sebelum mendaki, seharusnya memang dipersiapkan dengan olahraga yang cukup. 

Tibalah hari yang saya tunggu. Hari pendakian.  Saya dan beserta rombongan yang jumlahnya ada sekitar 20 orang berangkat dari Jogja menuju Jawa Tengah, tepatnya di Boyolali. Kami menginap semalam di base camp dan memulai pendakian pukul 08.00 pagi.

Bersama teman-teman mahasiswa dari Lombok

Perjalanan pendakian pada awal hingga menuju tempat pendirian tenda terasa seperti sesuatu yang musthail bagi saya. Setiap tanjakan, setiap itu pula rasanya ingin menyerah saja dan ingin pulang saja. Namun, ketika suara-suara teman di atas saya berteriak “sedikit lagi!” sepertinya memberikan suntikan motivasi dan saya lalu mensugesti diri saya bahwa saya bisa melakukannya hingga sampai ke tempat kami mendirikan tenda, walau masih sedikit ragu apakah bisa hingga ke puncak.

Ketika hari telah mencapai senja dan saatnya untuk sholat maghrib, kami akhirnya tiba dengan selamat dan keletihan di tempat kami mendirikan tenda untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak pukul 03.00 pagi. Ketika berhenti sejanak dan mellihat sekeliling, subhanallah saya bisa melihat gunung paling aktif di dunia, Gunung Merapi dari dekat. Teman saya berkata, “ini belum apa-apa, tunggu ketika kita tiba di puncak.” Belum sampai di puncak pun, saya sudah jatuh cinta dengan pemandangan yang terhampar di hadapan saya saat itu. Membuat saya terpesona. Rasa lelah dan hawa dingin yang menusuk badan serasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang saya rasakan.

Karena akan melanjutkan perjalanan pada subuh harinya, kami memutuksan tidur lebih awal, pendakian yang lebih terjal dan medan yang lebih sulit daripada yang pertama akan kami temui nantinya.
Beristirahat di pos 1


Dan tibalah saatnya...

Pukul 01.30 kami semuanya dibangunkan, sedikit briefing dan dimulai dengan doa, berangkatlah kami di subuh yang dinginnya betul-betul menggigit. Di sinilah saya benar-benar merasa jatuh cinta, ketika saya berhenti sejenak karena lelah saya mendongakkan kepala melihat langit subuh yang bersih dengan taburan bintang yang banyak, ciptaan-Nya sungguh tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata saya di sini. Lalu secara bergantian saya menegok ke bawah, pemandangan tak kalah indah juga berada di sana, kerlap kerlip lampu kota yang cantik tampak dari atas gunung, rasanya saya akan kuat sampai di puncak jika ditemani pemandangan seperti ini.

Jam 05.00 subuh, beberapa meter sebelum tiba di puncak, sebuah garis berwarna kuning muncul di langit, sebentar lagi matahari akan terbit, kami tak mau melewatkannya, hal itu membuat kami semakin mempercepat langkah kami walau kaki sudah merasa sakit. Sebelum matahari benar-benar muncul, kami sudah tiba di puncak Merbabu. Terdengar teman-teman yang berada di belakang yang belum tiba di puncak menyemangati diri dengan meneriakkan salah satu dialog iklan, “pucuk! pucuk!”
Akhirnya tiba juga di titik 1.345 mdpl :)

Matahari terbit di puncak

Inilah kisah cinta pertama saya. Cinta pertama pada alam lewat pendakian pertama saya. Cinta pertama tidak melulu cinta monyet di waktu kecil dan terjebak pada perasaan melankolis atau cinta pada materi yang punya harga mahal. Ada banyak bentuk cinta pertama. Cinta pada alam tidak hanya pada pada tahap menikmatinya saja, namun juga mensyukuri dan menjaganya. Berpetuanglah dan temukan cinta pertama mu :)


0 komentar:

Poskan Komentar