Pages

Minggu, 14 April 2013

Kota di Dalam Kota


Saya tinggal di salah satu perumahan yang disebut-sebut sebagai perumahan terbesar di Timur Indonesia. Kompleks Perumahan Bumi Tamalanrea Permai Makassar. Ada kisah yang menurut saya menarik dari perumahan ini. Simak cerita saya sebagai salah satu ‘penunggunya’. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.
Semasa SMP, salah seorang sahabat kental saya, tinggal di Kompleks BTP. Walaupun saya tinggal jauh dari rumahnya, saya selalu berkunjung ke BTP jika ia mengajak saya, sebagai sahabat yang baik, saya selalu mengiyakan. Perumahan yang cukup populer, pikir saya waktu itu karena selain sahabat saya, kebanyakan teman-teman sekolah lainnya bertempat tinggal di perumahan tersebut. Kesan pertama saya terhadap perumahan BTP adalah sebuah perumahan yang ramai, padat serta langganan banjir! BTP terkenal dengan perumahan yang selalu bermasalah dengan genangan air tiap tahun. Saya selalu tertawa ketika dulu sering mendengar sindiran orang-orang yang menyebut BTP merupakan singkatan dari Perumahan Banjir Terus Permai.

Beberapa tahun berjalan, saya lalu mendapati diri saya berada di salah satu rumah di BTP, saya tidak sedang mengunjungi sahabat SMP saya. Saya dan keluarga akhirnya, di pertengahan tahun 2002 resmi menjadi warga dari perumahan yang diresmikan oleh mantan presiden, Alm. Soeharto di tahun 1991. Kami pindah dari tempat tinggal kami yang dulu di Kelurahan Paropo.

Satu hal yang kami khawatirkan dari rumah ini, apakah akan menjadi korban banjir juga? Mengingat BTP selalu menjadi langganan tetap banjir tiap tahun dan kami pun sekeluarga juga trauma dengan banjir. Di rumah yang dulu pun kami selalu terkena banjir yang sangat parah dan rutin terjadi tiap tahun, maka dari itu rumah lama kami mempunya lantai dua yang berfungsi sebagai tempat mengungsi ketika kami kedatangan ‘tamu’ tiap musim hujan. Menurut pemilik yang menjual ruko itu, ruko tersebut bebas banjir karena posisinya yang lebih tinggi dari jalanan. Kami merasa lega. Musim hujan datang juga dan memang air yang ada di jalanan tidak sampai masuk ke rumah, tapiii, air yang berada dari bawah tanah-lah yang menjadi masalah. Air terus menerus merembes dari pinggir tegel, tempat terparah ada di ruang dapur. Yah, kami memang masih kebanjiran. Kami sekeluarga merasa ‘dikutuk’ karena bertahun-tahun tidak bisa lepas dari banjir, namun satu hal yang kami syukuri adalah banjir di rumah yang baru ini airnya lebih sedikit dan bersih tanpa lumpur tidak seperti banjir di rumah lama, jadi saya dan keluarga tidak perlu mengeluarkan tenaga yang lebih keras untuk ‘mencuci’ rumah kami.   

Hal yang menarik ketika entah di tahun keberapa, saya lupa waktu persisnya, di suatu musim penghujan dan di kondisi kebanjiran, saya, ayah dan ibu menjalani keseharian kami. saat ayah saya membersihkan banjir di rumah yang mulai surut, beliau mendapati air yang berbau minyak, lalu ia mengikuti jejak minyak itu melalui pintu menuju halaman belakang, ayah memanggil saya untuk memastikan jejak kilauan minyak itu berasal dari genangan air di sekitar pompa air yang terletak di halaman belakang. Kami berdua saling memandang dan tersenyum lebar. Benarkah ada sumber minyak di bawah tanah tempat rumah kami berdiri? jika benar, kami berdua membayangkan rumah ini akan terkenal, masuk TV dan kami akan menjadi kaya raya. Kejadian air bercampur minyak ini terus menerus terjadi selama beberapa hari. Sehingga kami berdua mengambil kesimpulan, sumber minyak benar-benar ada di bawah rumah kami! Namun, setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, ternyata air yang bercampur minyak itu berasal dari tumpahan minyak tanah dari kompor minyak ibu yang beliau letakkan tersembunyi di sudut tempat mencuci baju di halaman belakang. Saya dan ayah kecewa, kami batal menjadi terkenal.

BTP tidak hanya diramaikan oleh manusia, tapi gerombolan sapi yang entah darimana dan entah siapa pemiliknya juga membuat kondisi kompleks perumahan ini semakin semrawut. Mereka sangat menganggu. Memacetkan jalanan di BTP, buang kotoran sembarangan, membongkar sampah warga yang diletakkan di depan rumah, memakan bunga-bunga yang ditanam rapi oleh pemiliknya. Bagaimana jadinya jika salah satu sapi itu bisa saja memakan bunga mahal milik warga, pemilik sapi mungkin harus menggantinya dengan satu ekor sapinya.

sumber : http://bingkailensa.blogspot.com/2010_10_01_archive.html
sumber : koleksi pribadi

Saya pernah bekerja sebagai penyiar di salah satu radio swasta di Makassar, salah satu program acara di radio itu adalah menampung keluhan-keluhan warga Kota Makassar sekitar fasilitas dan layanan publik yang nantinya akan dimediasikan dengan pihak terkait. Dan salah satu keluhan terbanyak adalah sapi-sapi yang menganggu warga BTP. Suatu kali seorang pendengar menelpon kami, yang seperti biasa mengeluhkan sapi-sapi yang sering memacetkan jalanan di BTP, dari nada suaranya ada sedikit kemarahan. Di ujung pembicaraan, bapak itu memberikan usulan, jika urusan sapi-sapi tersebut belum juga diatasi, maka warga sepakat untuk memotongnya saja dan membagi-bagikan dagingnya ke warga. Saya menahan ketawa mendengarnya, dan menurut saya itu usul yang bagus karena saya pun juga merasakan kesusahan yang sama dengan bapak itu. Urusan hewan ternak yang ada BTP ini sudah dimediasikan berulang-ulang ke Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Makassar, namun selama saya bekerja disana hingga saya berhenti setahun kemudian, sapi-sapi itu masih saja berkeliaran di sekitar rumah kami di BTP. Hmm, entah kenapa belum juga bisa tertangani.

Perumahan BTP sebagai perumahan yang ramai dan padat menjadi tempat yang strategis untuk membuka usaha. Di sepanjang jalan poros perumahan, ruko berjejeran dengan berbagai macam bidang usaha. Yang terbanyak adalah usaha kuliner. Jika Bulan Ramadhan tiba, perumahan ini berubah menjadi pasar kaget menjelang buka puasa. Berbagai jajanan segala macam rupa dijual. Semua orang tiba-tiba menjual makanan pa’buka. Ruko yang tadinya hanya menjual pulsa, bidang usahanya bertambah dengan menjual Es Pisang Ijo dan Es Pallu Butung. Tak ketinggalan yang tidak menjual pa’buka juga bisa mendapat untung dari menyewakan halaman rumah mereka untuk ditempati orang lain berjualan. Berkah Ramadhan sangat terasa di BTP.

sumber : http://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/07/harga-kedelai-berjualan-takjil-tanpa-tempe-di-makassar/
Ruko-ruko juga semakin menjamur di perumahan ini dari waktu ke waktu. Spirit kewirausahaan warga BTP ditandai dengan bangunan ruko yang banyak dan direnovasi secantik mungkin. Bangunan yang tadinya hanya sebuah rumah biasa beberapa bulan kemudian bisa berubah menjadi sebuah ruko yang menjulang tinggi. Tetangga saya juga ikutan merenovasi rumahnya menjadi sebuah ruko bertingkat. Saya cukup terganggu karenanya, karena hal itu menghalangi sinar matahari ke rumah kami. Dulu setiap sore, saya sering menghabiskan waktu duduk di halaman belakang rumah, menunggu sunset yang terlihat jelas dari situ, namun sejak tetangga kami membangun rumahnya yang tinggi, saya tidak dapat melihatnya lagi. Kekesalan saya ini kemudian saya tuangkan ke dalam sebuah tulisan sederhana berupa cerpen yang kemudian menjadi salah satu pemenang kategori cerpen favorit di Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional di tahun 2009.

sumber : koleksi pribadi
sumber : http://rumahdijual.com/makassar/77655-ruko-btp-3-lantai-tamalanrea-makassar.html
Kota dalam kota. Saya menyebut perumahan BTP seperti itu. Versi lebay-nya, seperti Vatikan yang berada di Negara Italia. Sepertinya semua fasilitas sudah ada di perumahan ini. Sekolah dari tingkat playgroup hingga sekolah tinggi (sekolah negeri dan swasta), minimarket yang menjamur, Bank, ATM, PDAM, Polsek Tamalanrea, rumah sakit bersalin, toko bahan bangunan, butik, warnet termasuk beberapa rumah makan ternama di Kota Makassar juga membuka cabangnya di perumahan ini.

Sudah hampir setahun saya meninggalkan Makassar saat saya memutuskan melanjutkan pendidikan di Pulau Jawa. Kesemrawutan terkadang menjadi hal yang saya rindukan dari perumahan itu. Saya menunggu bulan puasa untuk bisa pulang (berharap saya bisa pulang) karena ketika bulan puasa tiba, aura kesemrwatuan di BTP menjadi lebih indah di mata saya.


Ket :
1. Pa’buka = sebutan untuk jajanan berbuka puasa.
2. Es Pallu Butung = es serut berbahan utama bubur Sumsum, di dalamnya ada pisang kepok yang dikukus dan sirup DHT. Maknyoss.

                                                                                                            


                                                                                                            

1 komentar:

KATALIS HATI mengatakan...

Kota di dalam kota untuk BTP...setuju kk :)

Poskan Komentar