Pages

Sabtu, 10 November 2012

Sahabat Kecil



Silvia Ramdini Sari. Nama yang bagus sekali. Pemilliknya adalah seorang anak perempuan cantik, berkulit putih susu. Poni selalu menghiasi wajahnya yang imut-imut itu. Kadang rambutnya yang panjang diikat atau diurai begitu saja.  Aku suka ketika, ia tersenyum, memperlihatkan jelas dua gigi kelincinya, menambah kesan imut pada wajahnya. Lucu. Kelucuan yang tidak membosankan.
Nama ini pula  yang sejak beberapa tahun lalu kucari-cari di mesin pencari google. Klik sana, klik sini, hasilnya tidak menjawab pertanyaanku. Memang, aku pernah menemukan namanya. Saat itu aku sempat membaca, seorang mahasiswi yang bernama Silvia Ramdini Sari, meminta bantuan keuangan untuk biaya kuliahnya, tapi aku tidak tahu, apakah mahasiswi ini adalah Silvia yang aku cari. Aku juga tidak menemukan fotonya.  Dan sampai hari ini, pertanyaanku, dia ada dimana, belum terjawab.

Ada kisah menarik bersamanya. Kisah masa lalu, saat kami masih kanak-kanak. Kisah anak-anak kebanyakan. Tapi bukankah kisah masa kecil adalah kisah yang paling indah yang pernah dijalani seseorang dalam hidupnya. Yah, terkecuali bagi anak-anak yang harus mengorbankan masa kanak-kanaknya untuk banting tulang membantu keluarganya yang tidak mampu. Semoga kelak, masa kecil mereka yang menderita itu, kelak terbayar dengan tercapainya impian indah mereka. Aamiin. 

Silvia Ramdini Sari. Sering kupanggil ia Pia, walau teman-teman sering bercanda dengan menyebut nama panggilannya seperti nama jenis kue. Jika mengingat namanya yang bagus itu, selalu membuatku terlempar ke masa lalu di sebuah lapangan bola sederhana, tidak berumput dengan tanah coklat yang gundul. Tempat warga mengadakan hajatan di kampung kami, tempat anak-anak bermain apa saja. Di pinggir lapangan itu ada sebuah pohon mangga raksasa yang kadang kami takuti, namun ketika tiba saatnya berbuah, pohon itu seakan “membujuk” kami untuk memetik buhanya. Seakan-akan ingin menunjukkan, bahwa ia sebenarnya bukanlah pohon yang menyeramkan. Jadilah, kami bekerja sama bahu membahu berusaha menikmati buahnya. Ada yang memanjat, ada yang menunggu di bawah mengumpulkan buahnya. Karena aku anak perempuan satu-satunya, aku selalu diminta berada di bawah menunggu buah yang dilemparkan para anak laki-laki yang memanjat pohonnya.  

Iyah, lapangan bola yang ada di lingkungan rumah kami. Tempat favoritku dan Pia bertemu untuk janjian berangkat ke sekolah bersama. Terakhir aku mengunjungi lapangan itu beberapa bulan yang lalu. Lapangannya masih ada, cuman hanya agak sedikit lebih sempit dikarenakan rumah penduduk yang semakin menjamur. Pohon mangga raksasa itu sudah tidak ada di tempatnya, entah kapan pohon itu ditebang. Kadang aku terbayang, pohon itu masih berdiri kokoh ditempatnya. Di cabang-cabangnya yang kuat ada beberapa anak bergelantungan, di batangnya yang besar, ada dua tiga anak berlomba menaikinya, dan pohon itu tersenyum, tergelitik dengan ulah anak-anak yang bermain di badannya.
Sore hari setelah tidur siang adalah waktu bermain favorit kami. Biasanya aku yang kerumahnya mengunjunginya. Setelah rapi dengan pakaian kaos dan celana pendekku, aku berjalan-jalan sambil melompat-lompat. Kuciran rambutku yang diikat oleh ibu, bergerak naik turun seiring gerakanku.
Di rumahnya ada prosot-prosotan dan halaman yang luas untuk bermain. Ditambah lagi keluarganya menanam pohon jambu air. Kami bermain prosot-prosotan dibawah pohon itu. Jika hari libur tiba, aku bahkan sering bermain dari pagi hingga sore hari di rumahnya. Oleh Mbahnya, kami sering disajikan telur dadar dan sambal terasi yang masih ada di tempat ulekannya, kami menikmati makan siang kami dengan mencocol telur dadar kami di ulekan itu. Pia marah, jika aku bermain-main dengan nasiku.

Tiap sore, ia dan kakak perempuannya rutin menjemputku untu belajar mengaji di surau. Aku jadi tertawa sendiri, jika mengingat kejadian awal aku dimasukkan oleh ibu ke TPA, aku sangatlah pemalu, saking pemalunya, aku tidak ingin pergi mengaji. Suatu hari, aku bersembunyi di kamar mandi karena tidak ingin bertemu banyak orang di TPA, sedangkan di luar kamar mandi, ibu, Pia dan kakaknya membujuk ku agar segera keluar. Dengan bujukan yang tiada henti, aku akhirnya luluh juga. Dengan satu syarat, aku tidak boleh berpisah dengan Pia.
Surau tempat kami mengaji, berdiri di sebuah empang ukuran sedang. Lebih bisa dikatakan sebagai rumah terapung, kami harus berhati-hati berjalan menuju pintunya yang disambungkan oleh sebuah papan kecil panjang yang bergoyang-goyang jika kami berjalan di atasnya.

Aku juga ingat betul, ketika kami pulang mengaji bersama melewati sebuah rumah panggung kayu tidak berpenghuni, tempat kami anak-anak yang mengaji di surau menghabiskan sore kami di rumah itu. Karena rumah itu masih setengah jadi, beberapa materi-materi berbahaya masih berserakan di sana. Seorang anak pernah terluka, pahanya terkena paku ketika ia mencoba turun menggunakan sebuah papan kayu yang ternyata masih tertempel paku. Aku dan Pia, menjadi saksi saat itu, bukannya menolong, kami berdua malah menertawai anak malang tersebut yang lari terbirit-birit sambil memegang pahanya. Dan, tawa itu pun harus kubayar ketika suatu hari aku bermain di sana dan tak sengaja menginjak seng tajam yang menggores tepat di ibu jari kakiku. Hingga kini, belasan tahun sejak kejadian itu, bekas lukanya masih ada, terlihat samar-samar, namun cukup mengingatkanku dan memberikanku pelajaran bahwa menertawai penderitaan orang lain merupakan hal yang paling tidak patut dilakukan. 

Kenakalan-kenakalan masa kecil ku dan Pia juga muncul di sekolah kami. Yang menjadi korban keusilan kami adalah seorang anak yang sebenarnya bisa dikatakan “spesial” tapi, begitulah kami, anak-anak jahil yang tidak tahu menahu jika anak seperti itu tidak pantas dijadikan objek kenakalan kami.

Bersambung..

Sleman, 10-11-12



0 komentar:

Poskan Komentar