Pages

Jumat, 23 Agustus 2013

Goosebump

          
Serial Goosebump
salah satu serial Goosebump

Generasi 90-an dan penyuka cerita horor pasti tidak asing dengan novel di atas. Goosebump atau dalam bahasa Indonesia artinya, merinding.  Inilah novel fiksi horor yang suksesnya mendunia karangan Robert Lawrence Stine atau lebih dikenal dengan R.L. Stine. Ia disamakan dengan pengarang terkenal, Stephen King, tapi spesialis dalam bacaan anak-anak.  

R.L. Stine
Goosebump sudah terjual lebih dari 300 juta eksemplar di seluruh dunia. Mulai diterbitkan dari tahun 1992-1997 dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa termasuk Indonesia. Yang paling saya sukai dan juga menjadi karakter dari novel ini adalah endingnya yang twist alias tidak bisa ditebak. Setelah membaca, saya biasanya langsung mikir, “Kok? Kok? Bisa begitu?? Tidaak..!” heheh..lebay yah :D. Novel ini menemani (halah) masa-masa SMP. Goosebump dulunya sangat terkenal di kalangan siswa di sekolah saya, yang menjadi keuntungan buat kami adalah kami bisa bertukaran serial goosebump yang belum kami baca tanpa harus menyewa lagi, heheh..

Gara-gara fenomena Goosebump ini kami lebih banyak menghabiskan waktu istirahat di kelas untuk menghabiskan membaca serial Goosebump, karena benar-benar membuat ketagihan. Saking ketagihannya, saya sering bertukar tempat duduk dengan teman saya yang berada di bangku belakang agar saya bisa duduk di tempatnya untuk melanjutkan membaca Goosebump, apalagi kalau gurunya membosankan dan tidak sangar, saya akan mengambil kesempatan ini (aduh, jaman jahiliyah, adek-adek jangan ditiru ya :D) ketika menyelesaikan membaca, saya sering bersyukur tidak hidup di dalam cerita horor yang dibuat oleh Stine, soalnya novelnya ini benar-benar bikin takut (tapi bikin ketagihan baca) sehari saya bisa menghabiskan 2-3 serialnya, termasuk serial Fear Street, ini juga novel fiksi horor dari R.L. Stine, tapi segmentasi pembacanya adalah remaja, di postingan lain akan saya bahas.  

Salah satu serial Fear Street
Beberapa judul yang saya masih ingat pernah baca adalah Welcome to Camp Nightmare, Stay Out of the Basement, Ghost Camp, Werewolf Skin, Let's Get Invisible, Welcome To Dead House dan masih ada beberapa yang judulnya sudah lupa tapi saya masih ingat ending ceritanya yang twist itu. Endingnya yang tidak terduga itu yang terus bikin nempel di kepala, kadang suka kesal juga kalau ending-nya tidak sesuai dengan keinginan saya, heheh.   


Oh iyah, namanya juga media kalau keseringan ‘dikonsumsi’ biasanya berdampak sama kehidupan kita. Karena masa-masa SMP saya lebih banyak baca novel horor akhirnya mau melakukan sesuatu jadi parno alias paranoid sendiri. Khawatir buka lemari pakaian, takutnya tiba-tiba ada monster tanpa kepala keluar dari lemari saya, setiap mau tidur tidak lupa mengecek kolong tempat tidur, khawatir jika tengah malam tiba ada sesosok mahluk jadi-jadian ‘hidup’ di bawah tempat tidur dan keluar untuk mencekik leher ketika saya sedang tertidur, atau malam hari tiba-tiba manusia serigala muncul di depan jendela kamar saya. Ada-adaa aja.. x_x  


Makassar.  23 Agustus 2013



0 komentar:

Poskan Komentar