Pages

Senin, 01 Juli 2013

Tentang Fase Kehidupan

Baru saja melihat theme song Piala Dunia 2014 di TV yang berjudul Todo Mundo, dibawakan oleh penyanyi Brasil, Gaby Amarantos. Hingga sekarang, bagi saya, saya belum menemukan lagu sekeren dan melekat banget di kepala, punya Ricky Martin di Piala Dunia tahun 1998 di Perancis, yang judulnya La Copa de la Vida (Cup of Life). Tapi saya bukan ingin bercerita dan mengkritisi lagu-lagu Piala Dunia. Ini tentang fase kehidupan. Apa hubungannya dengan Piala Dunia?


Album La Copa De La Vida
Untuk saya, saya membuat standar fase kehidupan saya berdasarkan perhelatan Piala Dunia, heheh. Saya mulai melakukan ini sejak tahun 1998, Piala Dunia di Perancis. Salah satu yang menarik buat saya dengan piala dunia kala itu, ya karena lagu punya Om Ricky Martin. Sekedar info, lagu itu sangat terkenal di tahun 90-an, yang notabenenya di tahun tersebut lagu anak-anak (yang bener-bener lagu yang cocok untuk usia anak) masih sering wara wiri di TV dan beberapa diantaranya mengadaptasi lagu La Copa de la Vida ini. Sangat disayangkan, saya lupa nama penyanyi anak-anak itu dan juga judul lagunya L yang paling saya ingat adalah musiknya, lagu Piala Dunia 1998 ini benar-benar melekat di kepala saya. Ditambah lagi, lirik bagian “Go, go, go, ale, ale, ale..” ini sering dinyayikan dimana-mana. Di dalam rumah saya, di lingkungan tetangga dan juga di sekolah dinyanyikan oleh anak-anak sebaya saya.

Sebagai anak-anak (waktu itu masih SD) tentunya fase kehidupan yang saya pikirkan kala itu, masih sangatlah sederhana. “Kapan Piala Dunia diadakan lagi?” Tanya saya pada Ayah. “Empat tahun lagi baru akan diadakan kembali.” Lalu saya kemudian memikirkan empat tahun ke depan saya akan menjadi apa ketika Piala Dunia muncul lagi? Sesederhana, seperti empat tahun ke depan saya sudah sekolah di SMP, terus empat tahun berikutnya saya sudah kuliah, dan seterusnya. Namun, ketika semakin dewasa, saya memikirkan fase kehidupan ini menjadi lebih kompleks. Empat tahun ke depan apakah saya masih hidup untuk menonton Piala Dunia kembali? Saya bakal berada dimana menonton Piala Dunia empat tahun ke depan? Bagaimana kehidupan saya setelah empat tahun ke depan? Apa sudah sukses kah? Ayah dan ibu bagaimana? Teman-teman saya bagaiman? Bagaimana jika empat tahun ke depan saya ditawari menyanyikan theme song Piala Dunia berikutnya, hahah. Dan yang paling sering terlintas adalah, apakah ketika menonton Piala Dunia berikutnya sudah ditemani/menemani suami? :D

Mendengar theme song Piala Dunia barusan, membuat saya meng-flashback semua yang telah saya lewati sejak pertama kali membuat standar fase kehidupan saya di tahun 1998. Lima belas tahun telah berlalu dan akan menjadi enam belas ketika Piala Dunia 2014 akhirnya diadakan di Brazil. Ketika di tahun depan, jika saya masih diberikan umur yang panjang, artinya sudah empat perhelatan Piala Dunia telah saya lewati dalam kehidupan saya sejak saya mulai mengerti betapa serunya Piala Dunia selain menantikan seperti apa theme song-nya.

Perhelatan piala dunia di tahun 2010 kemarin, saya kurang begitu mengikuti karena kesibukan mengurus skripsi. Dan saya sempat kecewa, kesempatan untuk menonton begadang semalaman bersama ayah jadi terlewati L dan di tahun 2014, insyaallah saya nantinya akan disibuki menggarap tesis. Woaah, dua perhelatan Piala Dunia selalu bertepatan dengan tugas akhir saya. Hmm..  

Saya bukan penggemar bola sejati, tetapi setiap empat tahun sekali saya akan membiarkan diri saya bergabung di dalam hiruk pikuk euforia Piala Dunia. Terutama dengan ayah. Saya ingat beberapa piala dunia, beliau rajin membawakan pernak perniknya. Baik itu jadwal pertandingan piala dunia yang akan saya tempelkan di tembok kamar, hingga handuk bergambarkan bendera negara tim jagoan saya.

Berdasarkan apa yang terjadi sekarang dan dimana saya berada. Saya dapat memprediksi pada saat Piala Dunia tahun depan, saya akan berada di kamar kos, nonton sendirian dikelilingi buku-buku dan revisi tesis. 

Sleman, 2 Juli 2013
01:55 AM


 Di tengah kantuk yang mengetuk-ngetuk

0 komentar:

Poskan Komentar