Pages

Kamis, 23 Mei 2013

Hidup Ini Hanya Masalah Waktu (part 2)



Ada kisah lainnya yang kemudian membuat saya berfikir, ternyata kejadian yang terjadi pada saya hari ini sebagian besar telah saya rencanakan (baca:impikan) di masa lalu saya.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Lombok, saya senyum-senyum sendiri dengan apa yang terjadi pada saya. Saya ingat betul di tahun 2010, di saat masih kuliah S1, tidak punya uang dan tidak mampu membayangkan untuk bisa liburan hingga ke luar pulau Sulawesi sehingga hampir setiap minggu yang saya lakukan adalah ‘mengeluh’ di dinding facebook, betapa saya menginginkan untuk bisa ke Lombok. Tanpa disadari, saya berharap jika saja saya mempunyai seorang teman yang berasal dari Lombok yang akan mengajak saya ke kampung halamannya. Di tahun 2012, saya ditakdirkan bertemu dua orang yang bernama Suci Lukitowati dan Mba Lale Fitria Ariyani. Dua teman kuliah saya di pascarjana UGM ini asli dari Lombok. Dan tebak apa kejadian selanjutnya? Yep, saya akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Lombok dengan bantuan dua orang sahabat saya itu. Bahkan tidak hanya satu tempat, bonus (lagi) saya mendapat kesempatan keliling Lombok. Terbekatilah kedua teman saya itu. Teman saya, Luky mengatakan “Bisa dibilang, kamu bahkan sudah mengelilingi pulau Lombok, Ndah!” Subhanllah. Dua tahun saya rasa bukan waktu yang panjang untuk bisa mewujudkan ‘ngidam’ saya ke Lombok dan penantian itu disertai dengan bonus lagi. Alhamdulillah. Lihat? Simpan dan rawat baik-baik impian itu, bahkan jika ‘hanya’ di dinding facebook. Tidak ada yang tahu, itu bisa tiba-tiba kemudian terwujud. 

Spot untuk berfoto2 ria di Malimbu, Lombok
Satu kisah terakhir. Saya mencintai petualangan. Dan ingin merasakan, setidaknya sekali dalam hidup saya ketika harus menjalani petualangan yang menantang. Salah satunya, ingin mendaki gunung! Awalnya, saya pikir saya terlalu neko-neko untuk keinginan yang satu ini. Saya? mendaki gunung? (kekurangan saya adalah suka pesimis duluan sebelum mencoba, sekarang sudah agak mulai dikurangi. Mohon bantuannya! :D) dan keinginan ini sebenarnya sudah sering ‘menggoda’ sejak beberapa tahun lalu, tapi saya singkirkan keinginan itu, hingga kemudian, teman saya Luky mengajak saya naik Gunung Merbabu yang letaknya di Boyolali, Jawa Tengah. Langsung saya saja saya iyakan dan tadaaa..! 

Puncak Merbabu (3.145Mdpl) dengan latar G. Merapi 

Coba dipikir-pikir lagi, mungkin selama ini kita terlena meyakini bahwa mimpi itu bisa dikatakan terwujud jika ia merupakan sebuah mimpi besar yang perjuangannya itu sampai bikin lelah, tidak bisa membuat tidur nyenyak, mengejarnya penuh dengan tangis hingga bikin berdarah-darah waktu mengejarnya. Sedangkan keinginan atau impian-impian kecil dianggap sebagai hal yang wajar dan bagian normal dari hidup kita. Bagi saya tidak seperti itu. impian-impian kecil itu juga butuh ‘tangan tak kentara’ yang mendatangkannya pada kita. Untuk bisa mencapai mimpi besar, kita juga pasti melewati impian-impian kecil, bukan?.  Mensyukuri impian-impian kecil yang terwujud juga bisa membuat kita bahagia, jangan tunggu impian besar terwujud baru kita memutuskan untuk bahagia. "Fabiayyi Aalaaa irobbikumaa Tukadzdzibaan" (Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?)
Nah, jika kalian punya mimpi dan udah putus asa mikir gak bakal kesampaian. lihat aja deh, kalau itu memang sudah ditakdirkan sama kita, diwaktu yang tidak kita duga, kita bakal diberi kejutan oleh 'tangan tak kentara itu' ;) 





2 komentar:

asrul asmar mengatakan...

postingannya keren mba

Indah Manggaga mengatakan...

@asrul asmar

Terima kasih :)

Poskan Komentar