Pages

Kamis, 14 Maret 2013

Di Jogja, tidak ada arah ke kanan atau ke kiri


source : http://www.batasnusa.com/tugujogja-landmarknya-jogja.html
Ada kegelisahan tersendiri ketika saya harus menanyakan arah jalan di Jogja (halah), paling tidak itulah yang saya rasakan ketika tiba di kota ini. Karena di tempat saya berasal, menanyakan tempat cukup dengan mengatakan nama jalan, sebelah kanan atau kiri trus biasanya ditandai dengan satu bangunan yang sudah familiar. Misalnya: tempatnya berada di Jalan X, sebelah kanan Hotel Y. Saya yang tidak terbiasa dengan arah mata angin memaksa saya  harus menghapal betul arah mata angin disini, tapi sampai sekarang saya masih bingung.

Tidak masalah ketika saya masih berada di area sekitar kos atau di kampus, saya masih bisa mengenali arah utara, ke arah Gunung Merapi, karena patokan orang-orang disini adalah Gunung itu. Apalagi dari kos atau kampus puncak Merapi sangat terlihat jelas. Pokoknya harus ingat utara itu ada di arah Gunung Merapi, saya ulangi kata-kata itu di kepala saya. Tapi lain lagi ketika berada jauh dari daerah kos atau kampus, saya mana tahu Merapi ada dimana?? belum lagi ketika harus bertanya ke penduduk sekitar, bukannya saya jadi mengerti, malah tambah bingung karena petunjuk jalannya masih diberi arah mata angin. Belum lagi, sepertinya orang Jogja tidak terbiasa menyebutkan nama jalan, tapi nama tempatnya. Misalnya: Ke arah barat, lalu belok kiri, tempatnya di samping X (menyebutkan nama tempat). Lengkaplah penderitaan saya sebagai pendatang ketika diberi intruksi seperti itu. x_x

Saat pertama kali datang di kampus untuk mendaftar ulang, saya dibuat ngos-ngosan karena harus mencari gedung akademik pasca. Masuk gedung sana, masuk gedung sini, tanya sana, tanya sini, saya malah mutar-mutar tidak jelas. Malah nyasar di tempat parkir lantai dasar, saya melihat seorang bapak sedang setengah tertidur di kursinya menjaga kendaraan, dengan rasa tidak enak, saya bangunkan dia dan menanyakan gedung akademik untuk pasca dimana. Dan tebak, saya dikasih arah mata angin lagi, malah semakin tidak jelas karena saya tidak mengerti ucapan si bapak, akhirnya saya malah diarahkan masuk ke sebuah pintu (bukan pintu kemana saja) tidak jauh dari tempat saya dan bapak itu berdiri, akhirnyaaaa. Apakah pencarian saya berakhir di balik pintu itu ? saya pikir itu adalah pintu masuk ke gedung akademik, tapi ternyata itu adalah pintu masuk ruang tempat peralatan office boy ("_ _)/|

Yasud, saya kemudian meninggalkan tempat parkir dengan rasa kecewa, memulai lagi pencarian jati diri (eh?) saya memutuskan untuk masuk ke gedung kuliah fisipol (dan entah sudah berapa kali saya masuk di gedung itu, tapi tidak menemukan pencerahan)  karena waktu itu adalah waktu libur, maka tidak  banyak orang berlalu lalang yang bisa ditanyai. Eitss, tunggu dulu ada seorang bapak yang melintas, saya lalu bertanya, dan kira-kira waktu itu jawabannya seperti ini,  “Mba e jalan keluar dari sana, trus ke arah  barat, belok sedikit, gedungnya ada disebelah selatan, dan bla, bla, bla, bla...” saya tidak menyerah, terus saya nanya lagi alias mengkonfirmasi ke bapaknya dengan menggunakan arah kanan atau kiri, dengan maksud nanti si bapak mengikuti saya menggunakan kata “kanan” atau “kiri” tapi bapaknya tidak bilang ‘iya’ dan juga tidak bilang ‘tidak’, malah melanjutkan dengan arah yang ia jelaskan sebelumnya. Ikkhh..si bapak bikin gemes dehh >.<  

Singkat cerita saya jadi bolak balik berkali-kali keluar masuk gedung fisipol dan lantai parkir, mondar mandir di bapak yang jaga kendaraan, sempat melihat si bapak itu, mimik wajahnya jadi bingung melihat saya selalu muncul tiba-tiba di depannya (emangnya hantu?)  Saya stay cool aja, padahal udah pengen teriak, cuaapekk..! T_T

Untuk kesekian kalinya saya keluar lagi dari gedung fisipol melalui pintu belakang, nengok ke kanan dan Eureka! Gedungnya ketemu! Dan itu berada di samping gedung Fisipol, berada tepat di sebelah kanan gedung.. Aaarrgghhh.. Щ(ºДºщ)

source : http://jogjabiz.com/tugu-jogja-titik-nol-0km-jogjakarta/


Lain lagi ketika saya ingin memesan air galon untuk diantar ke kosan, sebelum saya menelpon pengantar galon, terlebih dahulu saya mengirim sms ke teman yang berbeda kos  untuk nanya kosan saya berada di sebelah mana (eh?) khawatir akan terjadi lagi peristiwa yang sama, ketika saya menelpon taksi dan saya dibuat bingung oleh supir taksinya karena arah mata angin itu. Dan benar ternyata, si pengantar galon seperti orang Jogja kebanyakan, nanya kos saya berada di sebelah mana, dengan mantap saya jawab “Sebelah kiri, arah ke utara kalau dari UGM, Mas! “ hohoho :D

Karena masalah arah mata angin ini, saya jadi ingin sekali mendatangi Mirota Batik yang terletak tidak jauh dari Malioboro, hanya untuk mengambil peta kota Jogja yang diberi cuma-cuma di sana. Begitu saya sampai disana, entah karena dendam kesumat sudah dibuat puyeng dengan per-mataangin-nan ini (halah) saya bukan hanya mengambil satu lembar tapi buaannyak, padahal petanya sama saja.  


Sleman, 13 Maret 2013, 22:30 wib

0 komentar:

Poskan Komentar