Pages

Jumat, 11 Mei 2012

Buat Apa Susah, Jika Bisa Bahagia?


Sore itu, saya dan dua rekan kerja sesama penyiar, Mba Wulan dan Izki sedang menghabiskan potongan terakhir pisang epe yang telah lama kami idam-idamkan.  Sudah lama, kami menginginkan untuk bisa mencicipi kembali pisang epe keju coklat, setelah terakhir kami menikmatinya di suatu senja, tepat di depan Fort Rotterdam beberapa minggu yang lalu.

Di ruangan di lantai 2, kami bertiga mengelilingi meja bundar yang tidak terlalu besar, yang berada di tengah-tengah ruangan. Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam sore. Di jam-jam segitu, biasanya beberapa karyawan sudah pulang dan tinggallah kami bertiga. Saya yang telah usai menunaikan tugas on air saya, menanti adzan maghrib sebelum pulang ke rumah, Mba Wulan yang masih harus melanjutkan sisa siarannya setelah adzan maghrib berkumandang dan izki yang menanti gilirannya on air setelahnya.

Kami pun lalu mengobrol ngalor ngidul dengan berbagai macam topik, yang selalu berubah-ubah.  Mulai dari kebiasaan kami yang suka jajan, apalagi dengan gorengan, sehingga entah siapa yang memulai ide konyol agar office boy kami, yang bernama Iren, kita minta saja untuk menanam pohon pisang dan juga umbi-umbian di depan studio. Yang membuat hal itu lucu adalah di depan studio, tidak terdapat tanah  tempat untuk menanam, karena langsung berhadapan dengan jalan raya besar. Lagipula, akan terlihat aneh, jika di depan stasiun radio kok ada kebun?? Belum lagi bercerita mengenai kelucuan, ketika Iren, yang kami minta bepergian untuk membeli pisang epe yang letaknya cukup jauh dari lokasi studio, demi memuaskan “ngidam” para perempuan-perempuan ini, sekembalinya dari membeli pesanan kami, memprotes dengan singkat, mengapa dia harus bepergian jauh hanya untuk sembilan biji pisang? Mungkin saat itu  dipikiran Iren, yang notabenenya seorang pendatang di Makassar,ketika membeli  seporsi pisang epe’, pembeli akan mendapatkannya setandan :D


Maknyoosss
Dari situ, kami pun melanjutkan  ke topik yang lain.

Kali ini topiknya berganti mengenai serba serbi perkuliahan. Izki dengan lika likui kuliahnya, Mba Wulan yang bercerita tentang dosen-dosen di almamaternya, UGM, dan saya yang cukup menjadi pendengar setia mereka :D sesekali menimpali dengan candaan.

Namun, tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Mba Wulan yang sambil mengaduk-ngaduk pisang epe’nya yang sudah hampir tamat, mengatakan, “Aku tuh, mikir, kalo masih bisa bahagia, ngapain harus sedih ya?” Entah apa yang menyebabkan Mba Wulan mengatakan hal seperti itu, namun saya dan izki tidak sadar akan ketidasadaran kami (halah!-..-) mengapa Mba Wulan tiba-tiba mengatakan hal seperti itu, tapi akhirnya saya dan izki kemudian mengangguk setuju.

Ternyata di bawah alam sadar kami (saya dan izki) kata-kata Mba Wulan itu terekam baik. Kalau masih bisa bahagia, kenapa harus sedih? Sewaktu Mba Wulan mengatakan hal itu, terkesan hanya nyeletuk saja, tapi maknanya dalam. Saya cukup tersentak, kenapa? karena saya selama ini secara tidak sadar menikmati kegalaun saya (akhirnya jujur juga -..-"), bersedih atas sesuatu yang sebenarnya jika dipikirkan ulang, adalah sesuatu yang tidak penting sama sekali. 

Lagipula dalam kehidupan, kesedihan dan kebahagiaan akan selalu datang dan pergi. Namun, bahagia itu lebih asyik, menyenangkan dan menguntungkan, jadi kenapa harus membuang waktu untuk brsedih?

Selalu ada dan pasti ada sesuatu yang bisa disyukuri dari kehidupan ini. Bahagia adalah pilihan, begitu juga kegalauan. Tinggal kita saja yang mengupayakan diri untuk merasakan salah satunya. Dan, kalo bisa memilih bahagia, kenapa harus sedih? 

Akhir kata, saya ucapkan sekian dan terima kasih atas perhatiannya (apa coba?). Oh iyah, sekalian, mau mengucapkan selamat ulang tahun ke Irend, tanpa jasa-jasamu, pisang epe' itu tidak akan terhidang di meja bundar studio dan mungkin tidak akan ada perbincangan kami  (lebay mode:on)


Salam pis,lop,and gehol  

Makassar, 2 Mei 2012


In our beloved studio v^_^v 



0 komentar:

Poskan Komentar