Pages

Jumat, 28 September 2012

Life is beautiful and don’t forget to love your parents



Novel Sepatu Dahlan yang ditulis oleh Krishna Pabicara itu sesekali memaksaku menitikkan air mata. Entah aku yang terlalu perasa, cara pengisahannya yang sedih, ataukah memang kisahnya yang memilukan. Tapi, aku pikir ketiganyalah yang betul-betul menguras air mataku.  


Kisah di dalamnya menceritakan seorang anak desa yang tertatih-tatih dalam mengejar dua impiannya ; sepatu dan sepeda. Cerita ini lalu mengingatkan ku pada masa kecilku yang bisa kukatakan susah, walau tidak sesulit Dahlan, tokoh dalam novel Sepatu Dahlan.  Sungguh, jika aku bandingkan masa kecilku dengan masa kecil Dahlan kecil, masih terlalu jauh. 

Di novel itu juga menceritakan betapa patuh dan sayangnya Dahlan pada kedua orang tuanya. Orang tua Dahlan yang benar-benar hidup dalam kemiskinan, menguras tenaga untuk menghidupi anak-anak mereka.

Ada satu adegan di novel itu yang benar-benar membuatku terharu, ketika Dahlan mencoba mencuri uang simpanan Bapaknya yang disimpan sangat rapi di lemari almarhum ibunya, untuk membeli sepatu dalam rangka pertandingan volinya, namun Dahlan kemudian mengurungkan niatnya untuk mencuri uang Bapaknya, tapi tak disangka ketika uang yang hampir ia curi itu, pada akhirnya diberika juga oleh Bapaknya untuk menambah uang Dahlan membeli sepatu baru.

Benar adanya jika ada yang mengatakan, jika orang tua adalah malaikat tanpa sayap. Baik Ibu dan Ayah, mereka berdua adalah dua manusia luar biasa.

Dulu, ketika aku dan abangku masih kecil, kami berempat masih menumpang di rumah nenek. Ibu dari ayah. Rumah yang sangat sederhana. Dengan dinding gamacca (anyaman bambu) yang menjadi bagian dari rumah itu. Pernah sekali waktu ibu bercerita, dinding kamar yang langsung berhubungan dengan lorong kecil di belakang rumah, seringkali di dorong paksa oleh parakang (manusia jadi-jadian, diakibatkan ilmu hitam yang pernah dipelajarinya) tiap malam, dengan suaranya yang seperti menghisap-hisap sesuatu, ibu pernah bilang padaku, jika itu adalah air got yang ia minum.

Ibu tidak takut, ia melemparkan garam ke arah dinding, dan mahluk itupun pergi. Aku bergidik mendengar ceritanya. Kejadian itu pernah terjadi di suatu malam ketika aku demam tinggi. Kami tidur bertiga : ibu, abang, dan aku. Ayah tugas jaga malam di tempat kerjanya. Mahluk itu berjalan-jalan tepat di balik dinding gamacca kami, bersuara aneh, sambil terus mendorong masuk dinding kamar. Aku mengigau, meracau karena demamku yang semakin tinggi. Ibu meninggalkan kami sebentar untuk mengambil garam di dapur dan melemparkan segenggam garam ke dinding, dan tiba-tiba suara yang tak beraturan dan suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa menghilang perlahan.

Tapi aku tak mau bercerita panjang tentang mahluk jadi-jadian itu. Aku hanya ingin bercerita masa kecilku yang sederhana dengan ayah,ibu dan abangku. Yang beberapa kali harus berpindah-pindah mengontrak rumah, berbagi rumah dengan kakek dan nenekku, hingga kami punya rumah sendiri.

Aku masih ingat betul, rumah kami-yang akhirnya-tidak mengontrak adalah rumah yang kecil dengan dua kamar. Tiap ruangnya, dipisahkan dengan dinding tripleks, lantai semen dan yang masih sama adalah dinding gamacca yang menjadi dindingnya. Yang lucu adalah dinding gamacca kami tidak menyentuh lantai. Ada celah sekitar satu jengkal dari lantai, sehingga kangkung yang tumbuh di empang belakang rumah kami, tumbuh merambat masuk ke dinding rumah. Sebelum itu bertambah tinggi dan mengubah rumah kami menjadi rumah seperti di dongeng dengan rambatan kangkung disana-sini, ayah selalu memotongnya.

Tiap malam dengan penerangan lampu minyak seadanya-waktu itu kami belum punya listrik- ibu lembur membuat keripik singkong, keripik singkong ibuku paling enak, karena selalu laris. Ibu menjualnya di kantin sekolah tempat ia bekerja, karena belum sekolah, aku selalu ikut ibu ke kantornya. Seiap hari. 
Malamnya, ibu sendirian saja mengolah singkongnya. Dari membelinya di pasar, mengupas, mencuci, memotong, membuat bumbu hingga keripik itu siap jual.

Uang hasil dari penjulan keripik yang laris manis itu, semuanya, kemudian dibagi dua untuk aku dan abangku, tanpa sisa seperser pun untuk ibu. Ibu yang bekerja keras membuat keripik singkong itu sendirian, tidak pernah mendapatkan imbalan dari penjualannya. Semua hasilnya diberikan untuk aku dan abangku agar kami dapat menabung membeli baju lebaran.



Jika melihat kondisi kami sekarang, semua mimpi kami tentang rumah impian, terkabul sudah. Jika Dahlan dalam novel itu menginginkan sepatu dan sepeda yang sudah ia dapatkan setelah ia bekerja keras. Aku pun sudah mendapatkan yang aku inginkan. Ayah yang dulu menginginkan sebuah kamar mandi di rumahnya, kini bahkan sudah mendapatkan kamar mandi di kamar tidurnya sendiri. Ibu yang menginginkan rumahnya mempunyai tembok batu, kini sudah tidak perlu khawatir jika ada angin kencang dan aku yang dulu menginginkan lantai rumah kami mempunyai lantai keramik –saat masih kecil,lantai keramik adalah hal mewah untuk kami- kini aku bahkan bisa bercermin di lantai rumah kami. ^_^

Hidup ini penuh dengan kejutan-kejutan yang tidak akan kita bayangkan sebelumnya, atau malah sudah berada di khayalan, namun, tiba-tiba saja sudah berada di genggaman. 

Life is beautiful by loving your parents :)


Yogyakarta,  Jumat 28 September 2012


Kangen Orang Tua :'(

0 komentar:

Poskan Komentar